Monday, June 13, 2022

sejarah sektor konsumer makanan MINUMAN Indonesia (sekilas)

TAYS: ayo lapor keuangan (2022)
 

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) diprediksi mampu melanjutkan pertumbuhan penjualan hingga akhir 2014. Penjualan perseroan akan didukung oleh peningkatan volume produksi biskuit bersamaan dengan penurunan tingkat persaingan penjualan produk kopi kemasan.

Mayora Indah merupakan produsen barang-barang konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods/FMC) dengan beberapa produk antara lain biskuit dan kopi. Dalam beberapa kuartal terakhir, perseroan menunjukkan tren pertumbuhan penjualan double digit.

Analis CIMB Securities Irenne Achmad mengungkapkan, berakhirnya program pemasaran beli dua gratis satu produk Torabika akan menjadi sentimen positif terhadap penjualan perseroan tahun ini. “Kami memperkirakan nilai penjualan kopi perseroan segera pulih, sehingga kami menaikkan estimasi laba bersih berkisar 1-4% periode 2013-2015,” ungkap dia dalam risetnya, belum lama ini.

Perseroan sebelumnya meluncurkan program pemasaran beli dua gratis satu. Program tersebut diluncurkan setelah Wings Group dan beberapa produsen kopi kemasan lainnya menawarkan program serupa. Program promo bernuansa perang harga tersebut telah mengakibatkan tekanan terhadap margin keuntungan perseroan.


Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php


Mari Intip Saham Sektor Konsumsi Yang Menarik (seputar forex)

   By: Royan Aziz   view: 17629
Analisa Saham Fundamental Share This

Indonesia tergolong negara dengan jumlah penduduk sangat banyak. Seiring dengan jumlah penduduk yang besar, tingkat konsumsi masyarakat pun ikut meningkat. Besarnya jumlah penduduk dan tingkat konsumsi masyarakat menjadikan Indonesia dikenal dunia sebagai target pasar potensial. Berbagai macam produk laku laris manis ketika dijual di Indonesia. Mulai dari otomotif, elektronik, gaya hidup, dan juga barang-barang konsumtif lainnya.

Saham Sektor Konsumsi - ilustrasi
Melihat besarnya tingkat konsumsi masyarakat, Indonesia bukan hanya menjadi target pasar produk-produk luar negeri yang potensial, tetapi juga sebagai target investasi para investor. Berdasarkan kabar terakhir, sebuah private equity asal Amerika (KKR) baru saja mengakuisisi 10% kepemilikan di Tiga Pilar Sejahtera, salah satu perusahaan yang bergerak di sektor konsumsi (consumer goods).

Pilihan investasi di sektor konsumsi bisa menjadi alternatif isi portofolio ketika investasi di perusahaan sektor lain masih menunjukan pelemahan kinerja. Misalnya, ketika sektor properti mengalami penurunan kinerja cukup signifikan sejak BI rate dinaikkan dan akibat aturan LTV yang baru. Juga disaat harga komoditas tambang dan perkebunan belum menunjukan kenaikan harga, sehingga emiten-emiten perkebunan dan pertambangan masih akan menurun kinerjanya. Meredupnya kinerja perusahaan di sektor lain mendorong investor mulai mencari alternatif investasi pada sektor yang masih bisa tumbuh. Salah satunya adalah sektor konsumsi.

Beberapa tahun sebelumnya, perusahaan – perusahaan sektor konsumsi Indonesia dikenal tahan terhadap krisis yang sempat terjadi. Pada saat krisis, kinerja dan pergerakan sahamnya memang ikut turun, tapi tidak begitu signifikan. Setelah itu, kinerja perusahaan consumer goods ini bisa dapat pulih dengan begitu cepatnya. Sehingga, di masa harga komoditas perkebunan dan pertambangan belum membaik, investor pun mulai memperhitungkan consumer goods sebagai alternatif investasinya. Namun sebelumnya, mari lihat dulu bagaimana kinerja emiten sektor konsumsi di kuartal dua tahun 2014 yang telah rilis beberapa minggu lalu.

Telah diketahui, sektor konsumsi di bursa efek indonesia terbagi menjadi beberapa sub sektor, diantaranya makanan dan minuman (food and beverage), rokok (tobbaco manufacture), farmasi (pharmaceutical), dan juga kosmetik. Berikut ulasan dari masing-masing sub sektor diatas:

Sub Sektor Makanan dan Minuman (Food and Beverage)

Sesuai dengan namanya, perusahaan dalam kategori Makanan dan Minuman memiliki ranah industri di bidang konsumsi makanan dan minuman. Perusahaan-perusahaan tersebut diataranya adalah Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), Tri Bayan Tirta (ALTO), Delta Djakarta (DLTA), Indofood CBP (ICBP), Indofood (INDF), Multi Bintang (MLBI), Mayora (MYOR), Nippon Indosari Corpora (ROTI), Sekar Laut (SKLT), Siantar Top (STTP) dan Ultrajaya (ULTJ).

Sepanjang tahun 2014 hingga semester pertama usai, kinerja penjualan emiten-emiten sub sektor makanan dan minuman masih mencatatkan kenaikan.

Revenue Emiten Saham Sektor Konsumsi
Data Revenue Emiten Sub Sektor Makanan dan Minuman.
Rata-rata pertumbuhan penjualan emiten-emiten ini masih cukup tinggi. Sebut saja penjualan Tiga Pilar Sejahtera yang tercatat tumbuh 37%. Atau Tri Bayan Tirta yang mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 47%.

Nett Income Emiten Saham Sektor Konsumsi
Data Nett Income Emiten Sub Sektor Makanan dan Minuman.
Besarnya beban operasional perusahaan menyebabkan banyak emiten sub sektor makanan dan minuman mengalami pencatatan laba bersih yang turun signifikan. Misalnya saja Ultrajaya Milk (ULTJ). Penjualan selama semester pertama tahun 2014 masih tumbuh 13%. Namun, beban operasional yang meningkat signifikan menjadikan laba bersihnya tergerus minus 44%. Laba bersihnya menjadi 123 miliar hingga semester pertama tahun 2014. Padahal, laba bersih ULTJ di semester pertama tahun 2013 mampu dicatatkan sebesar 219 miliar.

Seperti Ultrajaya Milk, Mayora Indah (MYOR) juga ikut mencatatkan pertumbuhan laba bersih negatif. Laba bersih MYOR menjadi 308 miliar, turun 33% dari 460 miliar pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Meskipun beberapa perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba negatif, namun perusahaan seperti AISA, DLTA, INDF, ROTI, SKLT, dan STTP masih mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif.

Pertumbuhan laba bersih negatif di saat pertumbuhan pendapatan masih positif, mengindikasikan bahwa mayoritas perusahaan subsektor food and beverages mengalami masalah kenaikan biaya operasional. Untuk membuktikan hal tersebut, mari simak tabel Net Profit Margin berikut.

NPM Emiten Saham Sektor Konsumsi
Net Profit Margin Emiten Sub Sektor Makanan dan Minuman.
Benar saja. Perusahaan yang masih mencatat pertumbuhan laba bersih  berkebalikan dengan pendapatan, seperti ICBP, MYOR, ataupun ULTJ, sedang mengalami masalah pada efisiensi operasional perusahaan. Perusahaan seperti AISA atau MLBI juga mengalami penurunan Net Profit Margin, namun perusahaan-perusahaan tersebut masih bisa mencatatkan kinerja positif.

Jika dilihat dari Net Profit Margin tersebut, INDF dan ROTI memiliki kinerja yang sangat baik. Pendapatan dan laba bersih yang berhasil dicatatkan kedua perusahaan tersebut mengalami pertumbuhan positif. Selain itu, net profit margin mereka pun tumbuh dengan baik. NPM INDF tumbuh dari 8% menjadi 9%, sedangkan ROTI masih tetap mempertahankan NPM di angka 11%.

Sub Sektor Industri Rokok (Tobbaco Manufacture)

Bagi perusahaan Tobbaco Manufacture atau industri rokok, tantangan di masa mendatang bisa jadi makin berat. Meningkatnya pembatasan iklan dan cukai rokok membuat perusahaan rokok harus benar-benar memutar strategi untuk bertahan.

Seperti HM Sampoerna (HMSP). Untuk efisiensi, perseroan terpaksa menutup pabrik besarnya yang beroperasi di Jawa Timur. Langkah serupa juga dilakukan oleh Bentoel Group (RMBA), yaitu dengan menawarkan program pensiun dini kepada karyawannya. Disamping itu, diam-diam ternyata Gudang Garam (GGRM) juga melakukan penawaran pensiun dini sama seperti Bentoel Group.

Revenue Emiten Saham Sektor KonsumsiData Revenue Sub Sektor Industri Rokok.
Segi kinerja penjualan emiten rokok masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dari keempat emiten dalam sub sektor industri rokok, hanya Wismilak (WIIM) saja yang pertumbuhan pendapatannya negatif. GGRM, HMSP, dan RMBA masih mencatatkan kinerja positif. Pendapatan GGRM dan RMBA bahkan masih bisa tumbuh hingga diatas 20%.

Nett Income Emiten Saham Sektor KonsumsiData Nett Income Sub Sektor Industri Rokok.
Laporan keuangan perusahaan rokok nampaknya semakin menegaskan bahwa perusahaan di industri ini benar-benar harus memikirkan bagaimana strategi efisiensi. Pendapatan perusahaan boleh saja masih tumbuh positif, tetapi laba bersih yang didapatkan mencatatkan pertumbuhan negatif.

RMBA masih belum bisa mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif dalam beberapa waktu belakangan. Alhasil, laba bersihnya pun tergerus semakin dalam. Jika rugi bersih RMBA 536 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya, tahun ini rugi bersihnya mencapai 856 miliar. WIIM masih mencatatkan laba, namun laba tersebut tumbuh negatif. Praktis, hanya GGRM saja yang laba bersihnya masih kuat tumbuh positif. Sementara itu, laba bersih HMSP tercatat stagnan dari tahun sebelumnya.

NPM Emiten Saham Sektor KonsumsiData Net Profit Margin Sub Sektor Industri Rokok.
Jika dilihat dari rasio Net Profit Margin perusahaan di sub sektor industri rokok tersebut, mayoritas mengalami penurunan net profit margin. Jika manajemen tidak mengambil langkah strategis, beban perusahaan akan semakin bertambah. Beban tersebut tentu semakin mengikis laba bersih nantinya.

Sub Sektor Farmasi (Pharmaceutical Manufacture)

Pertumbuhan populasi masyarakat Indonesia membuat perusahaan farmasi akan semakin berkembang pesat. Apalagi, kini sudah banyak masyarakat Indonesia menyadari pentingnya kesehatan. Meningkatnya kemudahan akses masyarakat dalam mendapatkan kesehatan, semakin menegaskan bahwa investasi di sektor ini termasuk salah satu investasi yang cukup menjanjikan dimasa depan.

Revenue Emiten Saham Sektor KonsumsiData Revenue Sub Sektor Farmasi.
Perusahaan-perusahaan farmasi tiap tahunnya selalu tumbuh. Di semester kedua ini saja, mayoritas perusahaan farmasi mencatat pertumbuhan pendapatan yang positif. Misalnya saja Kalbe Farma (KLBF) yang pertumbuhannya mencapai 13%, atau Pyridam Farma (PYFA) yang mencatat pendapatan hingga 30%.

Nett Income Emiten Saham Sektor KonsumsiData Nett Income Sub Sektor Farmasi.
Seperti kebanyakan perusahaan sektor konsumsi, operasional perusahaan menjadi masalah penting untuk diselesaikan. Tercatat, laba bersih mayoritas perusahaan farmasi mengalami penurunan. Indofarma yang masih inefisien dalam operasionalnya membuat laba bersih semakin terperosok negatif. Begitu juga dengan PYFA yang meskipun pendapatannya tumbuh 30%, namun laba bersihnya terserus negatif hingga 67%.

Meskipun beberapa perusahaan farmasi masih mengalami kesulitan menyelesaikan masalah inefisiensi, beberapa perusahaan seperti Kimia Farma (KAEF) dan Sido Muncul (SIDO) malah sukses meminimalisir beban operasional. Alhasil, SIDO mencatatkan pendapatan tumbuh negatif 2%, tetapi mampu mencetak pertumbuhan laba bersih hingga 37%.

NPM Emiten Saham Sektor KonsumsiData NPM Sub Sektor Industri Farmasi.
Melihat performa emiten sub sektor farmasi diatas, Kalbe Farma (KLBF), Sido Muncul (SIDO) dan Kimia Farma (KAEF) memiliki kinerja menarik. Manajemen KAEF semakin menjadikan perusahaan BUMN bidang farmasi ini efisien dalam operasionalnya. Sehingga, laba bersih pun tercatat semakin tumbuh besar.

Sebagai pemain besar, KLBF mampu menjaga rasio Net Profit Margin diangka lebih dari 10%. Dengan demikian, KLBF semakin menegaskan dirinya sebagai perusahaan dengan fundamental yang sangat bagus. Sedangkan sebagai pemain baru di Bursa Efek Indonesia, SIDO mengkonfirmasikan bahwa dia merupakan perusahaan yang bisa mencetak laba lebih besar. Hal ini terlihat dari NPM SIDO yang tumbuh signifikan menjadi 21% dari semula 15%. Tebalnya NPM ini membuat SIDO lebih mudah untuk mencetak laba bersih yang lebih besar lagi.

Sub Sektor Kosmetik

Gaya hidup masyarakat Indonesia semakin modern, sehingga masyarakat Indonesia tampil dengan gaya khas dan berbeda. Mulai dari aksesoris, fashion, hingga penampilan. Maka tak heran kalau banyak masyarakat Indonesia mau merogoh kocek dalam-dalam, termasuk untuk membeli kosmetika, hanya demi agar penampilannya terlihat menarik.

Revenue Emiten Saham Sektor KonsumsiData Revenue Sub Sektor Kosmetik.
Gaya hidup masyarakat tersebut mulai digarap sungguh-sungguh dan menjadi peluang usaha. Di Bursa Efek Indonesia, ada beberapa perusahaan yang bergerak di sub sektor kosmetik tersebut, seperti Akasha Wira Internasional (ADES), Martina Berto (MBTO), Mustika Ratu (MRAT), Mandom Indonesia (TCID), serta Unilever (UNVR).

Nett Income Emiten Saham Sektor KonsumsiData Nett Income Sub Sektor Kosmetik.
Sayangya, kinerja emiten sub sektor kosmetik dalam tahun ini mengalami penurunan. Pertumbuhan pendapatan MBTO dan MRAT bahkan cenderung menurun. Sehingga, laba bersih yang dicetak keduanya pun turun masing-masing minus 79% dan 69%.

NPM Emiten Saham Sektor KonsumsiData NPM Sub Sektor Kosmetik.
Praktis, hanya UNVR lah yang memiliki kinerja yang cukup stabil. Pendapatan UNVR tumbuh signifikan, tetapi laba bersih yang dicatat hanya tumbuh tipis 1% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, jika melihat net profit marginnya, net profit margin UNVR masih cukup besar, yaitu 16%. Dengan nilai margin tersebut, margin UNVR menjadi tertinggi diantara perusahaan sub sektor kosmetik lain yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.